Apa itu Haid ?

Suatu ketika, adik-adik yang perempuan mungkin kaget saat pertama kali mengalami haid. Bukan apa-apa sih…! Tidak luka, sakit pun tidak, kok tiba-tiba mengeluarkan darah. Bagi yang tidak mengerti, jelas akan merasa kaget! Sebenarnya kalian tidak perlu kaget atau bingung, apalagi takut. Mengapa? Ya, karena memang Alloh menetapkan demikian, setiap wanita (yang normal) pasti akan mengalami haid –atau yang sering disebut juga menstruasi- cepat atau lambat.

Nah, dengan mengalami haid, itu artinya anak perempuan sudah baligh. Maksudnya, kalian sudah diharuskan atau diwajibkan untuk menjalani kewajiban-kewajiban dalam agama ini dan berdosa jika berani meninggalkannya. Bagi yang belum mengerti apa itu haid, silakan menyimak!

 Haid adalah darah yang keluar dari kemaluan wanita pada waktu-waktu tertentu dan keluarnya darah itu bukan karena sakit, bukan pula darah yang keluar dari seorang ibu karena melahirkan atau keguguran.

Warna darah haid umumnya berwarna merah kehitaman dan berbau tidak enak. Oh iya…tidak ada penetapan umur tertentu seorang wanita mulai haid. Artinya, ketika keluar darah bukan karena sakit atau melahirkan, berarti ia telah mengalami haid. Jadi, bisa saja seorang anak perempuan haid di usia enam tahun, misalnya.

Selama seorang wanita mengalami haid, dia haram melakukan sholat, puasa dan thawaf di Ka’bah, sampai ia suci dari haidnya. Jika ia telah suci dari haidnya, ia wajib mandi. Setelah itu barulah ia boleh melakukan sholat, puasa, atau thawaf di Baitulloh. Lalu, apa tandanya seorang wanita telah suci dari haid? Tandanya adalah berhentinya keluar darah atau keluarnya cairan putih bening.

Sekarang, kita akan belajar tata cara mandi haid. Caranya sebagai berikut:

1. Niat. (Masih ingat kan, niat itu hanya di dalam hati?)

2. Berwudhu seperti wudhu untuk sholat.

3. Menuangkan air ke atas kepala, lalu menggosok pangkal rambut dengan kuat.

4. Menuangkan air ke seluruh tubuh. Boleh juga menggunakan sabun atau shampoo.

5. Terakhir, mengambil kapas atau semacamnya yang sudah diberi wewangian, kemudian mengusap tempat keluarnya darah haid dengan kapas itu.

Hmm….ada lagi yang harus kalian ketahui! Karena wanita haid tidak boleh puasa wajib (puasa Ramadhan) selama ia haid, maka setelah selesai bulan Ramadhan ia harus mengganti puasa sejumlah hari yang ia tinggalkan. Adapun sholat yang ia tinggalkan selama haid, ia tidak perlu menggantinya.

(Diambil dari Majalah Mumtaz Edisi 6 – Vol.II/1429H)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: