Matematika, Bukan Merupakan Pelajaran Yang Sulit Untuk Di Pelajari

math-300x249.jpg

Matematika, Bukan Merupakan Pelajaran Yang Sulit Untuk Di Pelajari Banyak para siswa beranggapan bahwa matematika adalah pelajaran yang membosankan, membingungkan untuk di pelajari. Tapi kalau kita berfikir tentang pelajaran yang kita sukai pasti pertanyaa tadi akan terjawab, kenapa dan bagaimana?. Misal kita suka pelajaran komputer maka kita akan cepat menangkap materi- materi yang diberikan oleh para guru kita mengenai pelajaran computer. Apa sebabnya?. Kita mahir komputer karena kita suka dengan pelajaran koputer maka tak heran jika kita serius dalam mempelajarinya, sehingga kita belajarpun merasa senang dan bersemangat untuk belajar. Tapi kenapa matematika sulit untuk di pelajari oleh sebagian siswa?. Apalagi sekarang metematika menjadi suatu momok yang menakutkan bagi para sebagian siswa. Karena matematika termasuk pelajaran yang di ujikan negara bisa di sebut Ujian Nasional (UN). Setiap tahun pasti ada saja drama siswa tidak lulus Ujian Nasonal di sebabkan karena nilai matematika siswa tersebut di bawah Standar Kelulusan. Bahkan bisa dibilang matematika sering menempati tempat tertinggi siswa yang tidak lulus Ujian Nasional. Karena didalam dirinya sudah tertanam rasa tidak suka dan rasa tidak keingintahuan yang besar tentang matematika lain halnya dengan komputer yang dalam diri sudah tertanam rasa keingintahuan yang besar. Setiap kita ingin mempelajari suatu hal entah itu pelajaran ataupun hal yang lainnya, yang paling penting, pertama harus ada dalam diri kita rasa suka dan rsa keingintahuan yang besar. Jika hal tersebut tidak ada maka akan tersa sulit bagi kita untuk mempelajari hal terebut.Banyak orang yang baranggapan bahwa seorng / siswa siswa yang sulit menagkap pelajaran / materi matematika di anggap sebagai anak yang bodoh. Sebenarnya kalau kita bisa positif tidak ada anak yang bodoh, hanya saja kita kita menerjemahkan hal tersebut dalam satu sisi tanpa memperhatikan hal lainnya. Kita ambil contoh saja antara dua anak ini: Amir dan Andi. Amir disekolah terkenal sebagai anak yang pintar dan ber prestasi, tiap menerima raport dia pasti mendapat rangking 5 besar, tapi lain Amir lain pula halnya dengan Andi. Disekolah dia memang prestasinya tidak begitu baik, tapi siapa yang tau ternyata di luar sekolah, sebut saja di lapangan. Saat dia bermain bola Andi begiu pandai beramain bola sampai dia pernah menjadi pemain inti disekolahannya, tapi lain halnya dengan Amir yang tidak bisa bermain bola . Sekarang bisa di tarik kesimpulan siapa yang pandai dan siapa yang bodoh?. Dari sini kita bisa tau bahwa tidak ada anak yang bodoh, tergantung dari kita dari mana kita memandang hal tersebut. Bukannya mereka bodoh hanya saja sebagaian dari mereka kurang bisa menangkap pelajaran yang diberikan oleh para guru-guru mereka. Sebetulnya kalau para guru-guru sudah bisa menemukan bagaimana cara penyampaian / menyampaikan pelajaran di sekolah pasti para siswa dapat dengan mudah menagkap etip pelajaran yang diberikan oleh para guru, sehingga mereka lebih siap untuk menghadapi Ujian Nasional, dan Ujianujian lain. Salah satu penyebab siswa kurang menyukai matematika adalah kurangnya rasa keingin tahuan mereka mengenai matematika, padahal matematika merupaken pelajaran ya mengasyikan untuk dipelajari. Mereka beranggapan matematika merupakan pelajaran yang membingungan setiap hari bertemu dengan angka-angka yang membingungkan. Cara penghitungan menggunakan banyak rumus dan dengan cara yang membingungkan. Sebetulnya bukan karena matematika sulit hanya saja cara penyampaiannya yang kurang tepat. Banyak siswa beranggapan pelajarn matematika apa gunanya dalam kehidupan, bagaimana cara penerapannya dalam kehidupan sehari-hari?. Padahal tanpa kita sadari ternyata matematika banyak manfaatnya dalam kehidupan. Sederhananya saja, saat kita ingin membeli barang belanjaan contohnya kita ingin membeli kaos yang harganya Rp. 35.000,00 padahal uang kita Rp. 50.000,00 sudah barang tentu dalam diri langsung bisa menebak kembalian uang kita Rp. 15.000,00 tanpa kita menggunakan kalkulator. Contoh lagi saat kita berbelanja di Supermarket tertera Discount 50% pada hal barang tersebut harganya Rp. 150,000,00 sudah barang tentu kita akan tau bahwa harga sesungguhnya setelah di potong Discount 50% yaitu = Rp. 150.000,00 x 50% = Rp. 75.000,00 . Contoh lagi Dimensi 3 ,contoh saja Balok / Kubus tanpa kita sadari ternyata banyak manfaatnya dalam pembuatan rumah, box tempat susu, untuk menghitung laba dan rugi dan lain sebagainya. Ini semua tak lepas dari matematika bukan?. Salah satu sebab siswa susah untuk menerima materi yang di berikan adalah konsep dan cara penyampaiannya kurang tepat. Seharusnya sebelum siswa mengenal matematikaada baiknya siswa mengetahui apa itu matematika?, Bagaimana proses penerapan matematika dalam kehidupan?,sehingga dengan penjelasan tersebut siwa dapat termotivasi untuk lebih serius dan senang mempelajari matemaatika, sehingga siswa bisa lebih fokus dan serius dalam menerima / mempelajari matematika. Selain itu materi yang diberikan harus komplit jangan meloncat-loncati bab lain. Karena matematika antara bab satu dan bab lainnya saling berhubungan. Contohnya: antar dimensi 2 dan dimensi 3,antara matriks dan persamaan linier melalui metode eliminasi dan subtitusi, dll. Kalau mulai dari awal siswa sudah kurng paham maka untuk memehami bab selanjutnya yang masih ada hub dg bab sebelumnya siswa akan kesulitan untuk memahaminya. Apalagi jika kehadiran guru pengajar sering tidak hadir sehingga penyampaian materi akan terputus Yang terpenting dalam penyampaian materi tersrbut para guru harus mengetahui keadaan psikolagi siswanya, apakah keadaan siswa tersebut senang atau tidak tertekan sehingga penyampaiannya lebih cepat. Selain itu juga faktor guru menjadi faktor terpenting dalam penyampaian materi. Banyak siswa yang beranggapan banyak guru yang mengajar matematika mudah marah atau dalam menerangkan kurang jelas. Biasanya kalau siswa tidak mengerjakan PR para guru memberi hukuman yang bisa di bilang kurang pas, misalkan siswa di hukum untuk menyapu, membersihkan WC,dll. Seharusnya guru bisa memberi hukuman kepada siswa leih mendidik, seperti siswa disuruh mengerjakan PR yang belum di kerjakan di depan guru, atau mencatat materi yang baru. Dan yang yerpenting jangan sampai ad aunsu kekerasan. Dalam penyampaian materi pun harus sebaik dan semenarik mungkin sehingga siswa bisa tertarik dengan materi yang akan di berikan. Seperti dalam menerangkan memakai LCD / Komputer, atau juga bisa diadakan praktek yang berhubungan dengan materi yang di berikan,karena siswa lebih suka bila materi di sajikan dalam bentuk praktek. Jadi bisa di tarik kesimpulan dalam mempelajari matematika bukan hanya dari faktor siswa itu tersendiri, tapi faktor guru dan penyampaian materi juga menjadi faktor terpenting.

Posted by Wordmobi

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: